|
[Pelita Hati] Mau Jadi Ormas atau Parpol?
PADA 1 Februari 2010 di Jakarta telah dinyatakan berdirinya sebuah ormas (organisasi kemasyarakatan) baru dengan nama Nasional Demokrat. Para pendirinya adalah tokoh-tokoh yang sudah lama makan asam garam didalam dunia politik tingkat nasional, seperti Hamengku Buwono X, Surya Paloh, Syafii Maarif, Siswono YH, Khofifah, Ferry Mursidan, Syamsul Muarif, dan juga politisi muda seperti Budiman Sujatmiko dan Malik Haramain.
Ormas Nasional Demokrat menamai dirinya sebagai gerakan perubahan dengan mengusung gagasan Restorasi Indonesia. Menurut saya gerakan perubahan semacam itu tidak efektif kalau dilakukan oleh ormas, apalagi ormas baru, tetapi harus dilakukan oleh parpol. Maka tidak heran bila banyak orang menganggap bahwa ormas ND hanya merupakan sasaran antara untuk selanjutnya akan melakukan metamorphosa menjadi partai politik.
Beberapa tokoh ND membantah dugaan itu, karena di dalam ND terdapat banyak politisi dari partai lain seperti PKB, PDIP, dan Golkar. Tetapi ada tokoh ND yang mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan langkah itu akan terjadi. Saya lebih cenderung untuk memercayai pendapat terakhir.
Kalau hal itu yang terjadi, maka partai jelmaan ND itu, mungkin namanya Partai Nasional Demokrat (PND), akan mengalami nasib tidak banyak berbeda dari partai yang semula ormas lalu menjadi orpol. Kita ingat nasib PKPI yang kini tidak memeroleh satu kursipun di DPR RI. Yang agak lumayan adalah Perhimpunan Kebangsaan yang beralih menjadi Partai Hanura, yang mencapai hampir 4 persen jumlah suara.
Mungkin ada yang berpikir bahwa kalau waktu yang tersedia lebih lama, akan membuat ormas bisa berhasil kalau berubah menjadi parpol. Bisa kita ambil contoh ormas lain yang usianya sudah lama, yaitu MKGR. Ormas MKGR bisa tumbuh saat bernaung di bawah Golkar. Tetapi saat ormas MKGR keluar dari Golkar dan menjadi Partai MKGR, hasilnya mengecewakan. Bahkan sebagai ormaspun MKGR tidak terlalu berarti.
Kalau kita mau belajar dengan cermat dari sejarah Indonesia, maka kita bisa melihat fakta bahwa ormas yang bisa bertahan lama dan berskala nasional adalah ormas keagamaan. Yang besar ada dua yaitu NU dan Muhammadiyah yang sudah berusia tua. Ada ormas yang pernah jaya tetapi lalu menyusut yaitu Syarikat Islam. Juga ICMI. Ormas Islam berukuran sedang dan berskala nasional adalah Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Hidayatullah. Yang besar tetapi berskala regional adalah al Khairat dan yang berskala lokal adalah Nahdlatul Wathan dan Al Washliyah. Tetapi ormas keagamaan yang dibentuk oleh parpol ternyata gagal, misalnya MDI dan al Hidayah yang dibentuk oleh Golkar. Juga Baitul Muslimin yang dibentuk oleh PDIP.
Beberapa ormas Islam autentik yang disebut di atas memang betul-betul ormas, bukan ormas yang lalu dijadikan parpol atau ormas yang dibentuk oleh parpol. Kegiatannya memang nyata-nyata kegiatan ormas yaitu amal usaha sosial seperti pendidikan, kesehatan, rumah yatim, dan adakalanya ekonomi. Kegiatannya dilakukan sampai tingkat kecamatan, bahkan Muslimat NU di beberapa kabupaten di Jawa Timur bergiat sampai tingkat dusun.
NU didirikan sebagai ormas tetapi karena tuntutan sejarah lalu berubah menjadi parpol. Setelah 32 tahun aktif didalam bidang politik, lalu pada 1984 menyatakan diri akan kembali menjadi ormas. Ternyata tidak mudah melakukan hal itu. NU kini namanya ormas tetapi sering sekali perilaku pimpinan NU di berbagai tempat seperti pimpinan parpol. Kalau mau berjaya lagi, NU harus betul-betul melepaskan sama sekali kaitan dengan politik praktis.
NU perlu memantapkan dirinya pada peran sesuai khitahnya sebagai ormas yang menegaskan perbedaan dari parpol. NU bersama Muhammadiyah harus menegaskan jati-diri sebagai kekuatan utama masyarakat sipil, bukan bagian dari kekuatan partai politik apapun dan juga bukan bagian dari kekuasaan. Masyarakat sipil di Indonesia tidak akan efektif tanpa peran serta aktif NU dan Muhammadiyah.
Para tokoh politik harus mau belajar dari sejarah dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah dilakukan oleh mereka yang mendirikan ormas lalu disulap menjadi parpol. Kalau Nasional Demokrat tetap menjadi ormas, tidak menjadi parpol, dan ingin melakukan gerakan perubahan, hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Mereka harus membangun struktur dan jaringan yang menasional dulu, baru bisa melakukan perubahan dalam jangka panjang.
Yang penting, harus dipastikan dulu apa yang ingin dibuat: ormas atau orpol. Lalu dilihat sumber daya yang ada, kemungkinan keberhasilan dan konsekuensi yang timbul terutama dana dan waktu. Kalau tidak jelas dan tidak mau jujur mengakui apa yang diinginkan, rasanya hanya akan membuang waktu, tenaga, pikiran, dan dana.(Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng)
|