|
[Nusantara] Pelestarian Gunung Salak Kemitraan Aqua, Pesantren Al-Amin, dan TNGHS
Sukabumi, Pelita
Sebagian besar lokasi resapan air dipengaruhi oleh akibat penggundulan hutan atau berisiko terkena akibatnya. Lemahnya pengelolaan sumber alam, pemanasan global dan erosi telah mengakibatkan sejumlah bencana banjir dan kekeringan, dan para penduduk pedesaan paling merasakan dampaknya.
Sejumlah inisiatif dapat dilakukan untuk membangun masa depan yang lebih hijau: mengelola sampah, menurunkan tingkat penggunaan bahan kimia, penanaman pohon, pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara terpadu.
Walaupun demikian, untuk memastikan adanya kegiatan yang berkelanjutan, perlu diterapkan metode-metode yang melibatkan semua pihak. Kegiatan pelestarian lingkungan semacam ini harus dilaksanakan oleh komunitas lokal dan pihak-pihak yang terkait.
Sebagai wujud komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kemitraan dengan pesantren Al-Amin dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Aqua meluncurkan model Desa dan Pesantren Konservasi pada hari Sabtu, 28 Februari 2009, bertempat di dua desa yaitu Desa Manglid dan Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi dengan melakukan penanaman 7.000 pohon Puspa.
Acara peluncuran pesantren konservasi turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dari lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Dr Bambang Supriyanto, LSM pemerhati lingkungan hidup, ulama, pimpinan pondok pesantren Al-Amin, tokoh masyarakat setempat, pihak Aqua, serta puluhan relawan Aqua.
Penanaman ribuan pohon puspa ini merupakan pembuka dari program green belt (sabuk hijau) yang bertujuan sebagai pembatas alam antara hutan alam Taman Nasional dan hutan produksi bagi masyarakat. Dipilihnya pohon puspa karena daun pohon ini berwarna merah, sehingga jika di lihat dari udara, akan terlihat adanya pohon pembatas antara lahan taman nasional dan lahan masyarakat, jelas Yann Brault, Direktur CSR Aqua.
Melalui Model Pesantren Konservasi (MPK), maka perencanaan, strategi dan aksi konservasi oleh komunitas pesantren akan lebih solid dan sistematis karena dirumuskan dengan baik berdasarkan data-data valid dan faktual.
Program yang digagas Pimpinan Pesantren Al-Amin KHR Abdul Basith ini, didukung oleh Aqua sebagai bentuk pelaksanaan model bisnis AMDK yang berkesinambungan dinamakan Aqua Lestari. Dengan MPK ini, diharapkan lahan kritis di wilayah Cidahu dan Cicurug bisa dihijaukan kembali.
Sebagai perusahaan yang menggunakan air sebagai bahan baku produksinya, Aqua secara proaktif menggalakkan konservasi untuk terciptanya keseimbangan alam dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan konservasi yang dilakukan Aqua bersama pondok pesantren memiliki sisi ekonomis-produktif di mana mitra pesantren yang melaksanakan kegiatan konservasi akan merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut.
Sebagai kelanjutan dari program green belt akan dilakukan penanaman pohon produktif. Untuk tahap pertama akan dilakukan penanaman 30.000 pohon sengon (albasia) yang rencananya akan dilaksanakan di pertengahan bulan Maret 2009 di tiga desa yakni Desa Giri Jaya, Tangkil dan Babakanpari yang masing-masing dikelola oleh pimpinan pondok pesantren di tiap desa.
Penggagas MPK, KHR Abdul Basith mengatakan, kiprah pesantren dalam melestarikan lingkungan dan hutan bukanlah hal baru. Menurut Buya, sapaannya, sejak dulu para kiai memang sudah terbiasa melakukan kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan mau pun perikanan.
Agar kegiatan ini mudah diingat, kami memberinya nama Pesantren Konservasi, agar partisipasi masyarakat pesantren dalam konservasi bisa lebih mudah dikoordinasikan, ujarnya.
Dijelaskan Buya, kerusakan alam dan hutan sesungguhnya akibat ulah tangan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran. Karena itu, manusia sebagai pemimpin di bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam sehingga kerusakan bumi tidak menjadi bencana bagi manusia itu sendiri. (ck-77)
|