|
[Agama dan Pendidikan] Jamaah Haji Berharap Kompensasi
Biaya Angkutan Selama di Makkah
Banjarmasin, Pelita
Kalangan jamaah haji Indonesia tahun 1429 Hijriah berharap adanya kompensasi (ganti rugi) biaya angkutan kota (angkot) antara lokasi pondokan ke Masjidil Haram, Kota Makkah dari Pemerintah Repuplik Indonesia.
Kompensasi biaya tersebut diharapkan jamaah haji Indonesia khususnya dari lokasi pondokan yang jauh dari Masjidil Haram. Demikian rangkuman keterangan dari para jamaah haji Kalsel, di Banjarmasin, Kamis (8/1).
Seperti dituturkan beberapa orang jamaah haji Kalsel kloter 13 embarkasi Bandara Syamsudin Noor, gabungan jamaah haji Kota Banjarmasin dan jamaah haji Kabupaten tanah Laut (Tala) Kalimantan Selatan (Kalsel) mereka mengaku mengeluarkan uang pesangon cukup besar hanya membayar biaya angkot.
Masalahnya, bus angkutan yang dijanjikan Departemen Agama RI secara gratis untuk angkutan pondokan ke masjidil haram, praktis tak pernah kelihatan.
Saya hanya pernah dua kali naik bus gratis antara pondokan ke masjidil haram, selebihnya selama sebulan di kota Makkah, selalu menggunakan mobil angkutan kota, kata seorang jamaah kloter 13, H.Zainuddin.
Jamaah haji Kalsel Kloter 13 berada di wilayah sektor 7 dengan jumlah 42 kloter yang berasal dari berbagai provinsi di tanah air, tinggal (pondokan) di kawasan pengembangan baru kota Makkah, Syauqiah sekitar 12 kilometer dari Masjidil Haram.
Untuk menempuh jarak tersebut jamaah naik angkot dengan tarif cukup bervariasi. Pada awal-awalnya tarif berkisar sekitar 2 hingga 3 riyal per orang, tetapi belakangan tambah mahal hingga mencapai Rp10 riyal per orang.
Kalau dikompensasikan dengan nilai rupiah maka biaya angkot pulang pergi pondokan Masjidil Haram bisa mencapai Rp50 ribu per hari.
Padahal uang saku yang ada sebagian besar jamaah hanya diperoleh dari living cost, akhirnya uang tersebut lebih besar hanya dipergunakan untuk menutupi biaya angkutan saja.
Masalah tak adanya angkutan gratis selama berada di Kota Makkah tersebut sudah satu persoalan yang menjadi beban jamaah, ditambah lagi sulitnya jamaah mencari jenis angkutan kota Makkah yang bersedia rute Sauqiah-Masjidil Haram.
Kalau menuju Masjidil Haram dari Sauqiah itu mudah saja, karena hampir semua sopir angkot mudah menuju rute tersebut, tetapi pada saat pulang dari Masjdil Haram seringkali jamaah tersesat dibawa para sopir angkot tersebut, kata H Zainuddin.
Seringkali sopir angkot bila dikatakan jamaah ingin ke Syauqiah menyatakan tahu lokasinya, tetapi saat di tengah jalan seringkali mobil salah arah lalu tersesat dan berputar-putar di kota Makkah, akhirnya si sopir minta tambahan biaya lagi.
Pada saat seperti itu seringkali pula jamaah dan sopir bersitegang, dan yang menjadi masalah lagi, kesulitan komunikasi, akhirnya lebih banyak menggunakan bahasa isyarat saja.
Terus terang saja seandainya kondisi tersebut tidak saat beribadah maka seringkali muncul emosi, tetapi karena ini ibadah maka ya lebih baik banyak bersabar sajalah, kata H Zainuddin.
Keluhan soal biaya angkutan tersebut bukan saja terdengar dari mereka yang tinggal di Syauqiah melainkan juga yang tinggal di pondokan lain yang jauh dari Masjidil Haram, seperti dari Bahutmah, Rusyaifah, Aziziah, Makiah dan lokasi-lokasi lainnya.
Menurut beberapa jamaah masih banyak yang perlu dibenahi dalam sistem penyelanggaraan haji Indonesia, bukan hanya soal lokasi pondokan, dan transportasi, tetapi soal-soal lainnya.
Seperti tenaga kesehatan dan tenaga bimbingan haji, sebaiknya mereka yang dipilih mereka yang benar-benar ingin bertugas membantu jamaah haji, sehingga tidak sampai saat berada di kota Makkah para tenaga bayaran tersebut hanya mementingkan ibadah pribadi dan tidak menghiraukan kondisi jamaah.
Selain itu, tenaga pembimbing dan kesehatan yang dipilih harus berpengalaman, mengerti dan tahu kondisi lapangan, sehingga bisa memberikan bimbingan dengan baik dan benar.
Berdasarkan informasi, banyak jamaah kebingunan harus berbuat apa selama di Kota Makkah, karena pihak petugas pembimbing dari pemerintah tidak memberikan jadwal yang jelas dalam jurnal ibadah harian, akhirnya ada pihak jamaah terpaksa meminta bantuan tenaga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), padahal KBIH tersebut punya jamaah sendiri akhirnya mereka kerja rangkap. (dik/ant) |