Edisi Sabtu , 04 September 2010  
 Topik
Assalamualaikum
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Hallo Bogor
Derap TNI-Polri
Otonomi Daerah
 Rubrik Khusus
Pelita Hati
Hiburan
Pariwisata
Kesehatan
Budaya
Parlementaria
Lemb Anak Indonesia
Otonomi Daerah
Pemahaman Keagamaan
Lingkaran Hidup
Forum Mahasiswa
Swadaya Mandiri
Forum Berbangsa dan Bernegara
Dunia Tasawuf
  Kurs Valuta Asing
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
  Rumah sakit
Prof I Made Titib Gurubesar Bidang Wedha Pertama di Indonesia
[Agama dan Pendidikan]

Prof I Made Titib Gurubesar Bidang Wedha Pertama di Indonesia

Denpasar, Pelita
Prof Dr I Made Titib Phd (54) dikukuhkan menjadi gurubesar Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri (IHDN) di hadapan civitas akademika lembaga pendidikan tinggi Hindu. Pengukuhan tersebut dihadiri Dirjen Bimas Hindu Departemen Agama Prof Dr Ida Bagus Yudha Triguna MSi, Rabu (20/6).
Pada pengukuhan gurubesar bidang Wedha, kitab suci agama Hindu di lingkungan Departemen Agama yang pertama di Indonesia itu, doktor alumnus Program Kajian Budaya Universitas Udayana dan Ph.d university Haridvar, Uttar Pradesh India tersebut menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pitra Sukta, yakni pemujaan roh leluhur dalam Veda, dan implementasinya pada upacara Pitra Yadnya di Bali.
Menurut Dekan Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar itu, pemujaan kepada Roh Leluhur? di Bali lebih dominan dibandingkan dengan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa atau para Dewa manifestasi-Nya.
Hal ini tampak dari aktivitas umat Hindu dalam melaksanakan upacara Pitra Yadnya, disamping banyaknya tempat suci, baik berskala kecil di rumah tangga (merajan) maupun Pura berskala besar untuk memuja roh leluhur, ujar mantan Direktur Urusan Agama Hindu Departemen Agama.
Prof Titib menilai, pemujaan kepada Roh Leluhur oleh umat Hindu di India lebih sederhana dibandingkan dengan di Bali. Roh Leluhur cukup dipuja melalui altar rumah di samping arca dewata, tempat beristananya Istadevata.
Tradisi pemujaan kepada Roh Leluhur telah berlangsung sangat lama, yakni sejak perkembangan Agama Hindu di India. Di dalam kitab suci ini terdapat satu sukta (himne) yang khusus menguraikan pemujaan kepada Roh Leluhur, di sampimg juga disebutkan dalam mantra-mantra lainnya dalam kitab suci Veda, ujar ayah dua anak kelahiran Muncan, Kabupaten Karangasem.
Ia menambahkan, pemujaan kepada Roh Leluhur berlangsung sampai ke Bali dalam beberapa bentuk ritual (upacara Pitra Yadnya) yang juga menggunakan mantra puja, stuti, pandita di Bali.
Di dalam Wedha dinyatakan bahwa roh orang yang meninggal segera menjadi Pitra, menjadi bagian dalam upacara, seperti upacara Pinda Pitra Yadnya. Di India, upacara Pitra Yajna disebut juga upacara Pitrameda, ujar Titib.

Harapan
Pengukuhan gurubesar bidang Wedha dalam agama Hindu yang pertama di IHDN Denpasar maupun di Indonesia itu mengundang berbagai macam tanggapan dan harapan di kalangan dosen dan mahasiswa IHDN Denpasar.
?Gurubesar adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi suatu perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas kampus. Intelektualitas tergantung pada kualifikasi para dosennya. Karena itu, agar kualitas dan mutu pendidikannya bagus, maka harus memiliki gurubesar, tutur Dekan Fakultas Dharma Duta, Drs. I Made Surada, MA.
Ia berharap, dengan memiliki gurubesar, representasi IHDN dapat menjadi panutan dan ilham bagi para dosen dan mahasiswa sekaligus memajukan kampus.
IHDN Denpasar dari dulu mengidam-idamnkan gurubesar, karena semakin banyak gurubesar akan mudah meningkatkan status Institut menjadi Universitas, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, khususnya dosen dan mahasiswa.
Semakin banyak gurubesar, semakin banyak mahasiswa mendapat ilmu, sehingga SDM yang dihasilkan lebih berkualitas, tukas Dekan sekaligus dosen mata kuliah Dharma Gita itu.
Sementara Alit Putrawan, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) IHDN Denpasar, mengharapkan gurubesar dapat menjadi motivator bagi para dosen dan mahasiswa untuk berkompetisi mengikuti jejaknya Sebagai ahli Wedha, Prof Titib harus mampu mengaplikasikan ilmunya kepada mahasiswa ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Ni Ketut Ayu Manik Aryati, mahasiswa Fakultas Dharma Acarya. Dengan adanya gurubesar diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di IHDN, selain meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara lembaga, dosen dan mahasiswa untuk bersama-sama memajukan IHDN Denpasar ke arah yang lebih baik, ungkap Ayu Manik Aryati. (ant/dik)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Pemerintah Diharap Galakkan Pendidikan Learning Cooperative
Kanwil Depag Temukan Manipulai Data Calhaj
Embarkasi Haji Antara Gorontalo Segera Terealisasi
Kanwil Depag Bantah Sudutkan KTU MAN Model
Sudah Saatnya Indonesia Mengadopsi Sistem Pendidikan Islam
 
  Berita Lainnya
Pemerintah Diharap Galakkan Pendidikan Learning Cooperative
Kanwil Depag Temukan Manipulai Data Calhaj
Embarkasi Haji Antara Gorontalo Segera Terealisasi
Kanwil Depag Bantah Sudutkan KTU MAN Model
Sudah Saatnya Indonesia Mengadopsi Sistem Pendidikan Islam
 


Copyright Pelita 2007©