|
[Agama dan Pendidikan] Prof I Made Titib Gurubesar Bidang Wedha Pertama di Indonesia
Denpasar, Pelita
Prof Dr I Made Titib Phd (54) dikukuhkan menjadi gurubesar Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri (IHDN) di hadapan civitas akademika lembaga pendidikan tinggi Hindu. Pengukuhan tersebut dihadiri Dirjen Bimas Hindu Departemen Agama Prof Dr Ida Bagus Yudha Triguna MSi, Rabu (20/6).
Pada pengukuhan gurubesar bidang Wedha, kitab suci agama Hindu di lingkungan Departemen Agama yang pertama di Indonesia itu, doktor alumnus Program Kajian Budaya Universitas Udayana dan Ph.d university Haridvar, Uttar Pradesh India tersebut menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pitra Sukta, yakni pemujaan roh leluhur dalam Veda, dan implementasinya pada upacara Pitra Yadnya di Bali.
Menurut Dekan Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar itu, pemujaan kepada Roh Leluhur? di Bali lebih dominan dibandingkan dengan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa atau para Dewa manifestasi-Nya.
Hal ini tampak dari aktivitas umat Hindu dalam melaksanakan upacara Pitra Yadnya, disamping banyaknya tempat suci, baik berskala kecil di rumah tangga (merajan) maupun Pura berskala besar untuk memuja roh leluhur, ujar mantan Direktur Urusan Agama Hindu Departemen Agama.
Prof Titib menilai, pemujaan kepada Roh Leluhur oleh umat Hindu di India lebih sederhana dibandingkan dengan di Bali. Roh Leluhur cukup dipuja melalui altar rumah di samping arca dewata, tempat beristananya Istadevata.
Tradisi pemujaan kepada Roh Leluhur telah berlangsung sangat lama, yakni sejak perkembangan Agama Hindu di India. Di dalam kitab suci ini terdapat satu sukta (himne) yang khusus menguraikan pemujaan kepada Roh Leluhur, di sampimg juga disebutkan dalam mantra-mantra lainnya dalam kitab suci Veda, ujar ayah dua anak kelahiran Muncan, Kabupaten Karangasem.
Ia menambahkan, pemujaan kepada Roh Leluhur berlangsung sampai ke Bali dalam beberapa bentuk ritual (upacara Pitra Yadnya) yang juga menggunakan mantra puja, stuti, pandita di Bali.
Di dalam Wedha dinyatakan bahwa roh orang yang meninggal segera menjadi Pitra, menjadi bagian dalam upacara, seperti upacara Pinda Pitra Yadnya. Di India, upacara Pitra Yajna disebut juga upacara Pitrameda, ujar Titib.
Harapan
Pengukuhan gurubesar bidang Wedha dalam agama Hindu yang pertama di IHDN Denpasar maupun di Indonesia itu mengundang berbagai macam tanggapan dan harapan di kalangan dosen dan mahasiswa IHDN Denpasar.
?Gurubesar adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi suatu perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas kampus. Intelektualitas tergantung pada kualifikasi para dosennya. Karena itu, agar kualitas dan mutu pendidikannya bagus, maka harus memiliki gurubesar, tutur Dekan Fakultas Dharma Duta, Drs. I Made Surada, MA.
Ia berharap, dengan memiliki gurubesar, representasi IHDN dapat menjadi panutan dan ilham bagi para dosen dan mahasiswa sekaligus memajukan kampus.
IHDN Denpasar dari dulu mengidam-idamnkan gurubesar, karena semakin banyak gurubesar akan mudah meningkatkan status Institut menjadi Universitas, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, khususnya dosen dan mahasiswa.
Semakin banyak gurubesar, semakin banyak mahasiswa mendapat ilmu, sehingga SDM yang dihasilkan lebih berkualitas, tukas Dekan sekaligus dosen mata kuliah Dharma Gita itu.
Sementara Alit Putrawan, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) IHDN Denpasar, mengharapkan gurubesar dapat menjadi motivator bagi para dosen dan mahasiswa untuk berkompetisi mengikuti jejaknya Sebagai ahli Wedha, Prof Titib harus mampu mengaplikasikan ilmunya kepada mahasiswa ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Ni Ketut Ayu Manik Aryati, mahasiswa Fakultas Dharma Acarya. Dengan adanya gurubesar diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di IHDN, selain meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara lembaga, dosen dan mahasiswa untuk bersama-sama memajukan IHDN Denpasar ke arah yang lebih baik, ungkap Ayu Manik Aryati. (ant/dik) |