Pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Drs Tubagus Januar Soemawinata MM mengatakan duet antara Megawati Soekarnoputri-Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) diyakini dapat mempersatukan bangsa.
"Kalau dua kubu ini dapat menyatu alias bergandengan tangan, kita yakin semua persoalan bangsa akan dapat diatasi," ujar Januar saat dimintai tanggapannya oleh Pelita sekitar kemunculan Mbak Tutut di panggung politik nasional, Minggu (14/12) sore.
Seperti diketahui, putri sulung Pak Harto tersebut dicalonkan oleh Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) sebagai calon presiden pada pemilihan presiden mendatang. Hal itu seperti diungkapkan oleh Ketua Umum PKPB RH Hartono kepada pers, pekan lalu.
Menurut pengamat itu, kemunculan Mbak Tutut adalah angin segar bagi perpolitikan nasional. "Saya katakan, ini merupakan angin segar, karena bagaimana pun Mbak Tutut itu mewakili suatu kekuatan di republik ini," katanya.
Kalau dua kekuatan itu bergabung, papar Januar, yakni kekuatan Mega di satu sisi, dan di pihak lain kekuatan Mbak Tutut, penyatuan kekuatan tersebut akan sangat luar biasa. "Inilah sebenarnya yang kita butuhkan untuk membangun bangsa dan negara yang tengah terpuruk," jelasnya.
Disamping itu, penyatuan kedua kubu tersebut sesungguhnya merupakan rekonsiliasi nasional yang sejati. "Selama ini, telah kita usahakan untuk rujuk nasional dengan menggandeng beberapa tokoh atau elite politik. Namun, sebagaimana kita ketahui, setiap kali diadakan rujuk nasional, setiap saat pula rekonsiliasi itu retak-retak. Ini terjadi, karena rekonsiliasi nasional yang kita upayakan tidak menyentuh akarnya," ujar pengamat politik yang dikenal kritis itu.
Januar mengatakan yang dimaksud dengan akar masalah, yakni setiap persoalan itu dikupas, tidak dilibatkannya orang-orang yang memiliki kekuatan atau dukungan riil. "Siapa mereka itu, yakni kubu Mega dan kubu Mbak Tutut," tegasnya.
Keuntungan duet Mega-Tutut
Saat ditanya keuntungan dari duet Mega-Tutut, Januar mengatakan cukup banyak, antara lain dapat mengurangi ketegangan antara dua kubu, menciptakan stabilitas keamanan, dan situasi politik yang lebih kondusif.
"Bagaimana kita dapat membangun bangsa ini, kalau suasana politik dan keamanan tidak kondusif. Dengan penyatuan dua kekuatan yang berbeda itu. Kita yakin, kita akan lebih mudah mengentaskan persoalan-persoalan yang ada di bangsa ini," ungkap Januar.
Mengenai anggapan kemunculan Mbak Tutut bakal menyaingi Mega, pengamat politik dari Unas tersebut tidak sependapat. Menurut dia, justru kemunculan Mbak Tutut bagi Mega atau siapapun merupakan "berkah."
"Saya anggap kemunculan Mbak Tutut ini sesuatu yang baik. Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kehadiran Mbak Tutut di panggung politik nasional itu, antara lain adalah penjajakan demokrasi," katanya.
Artinya, papar Januar, kalau kemunculan Mbak Tutut dapat diterima, berarti bangsa ini telah benar-benar dewasa dan menghargai demokrasi. Sebaliknya, kalau masih banyak yang mempersoalkan, berarti bangsa ini masih harus belajar lagi soal demokrasi.
Ditanya sikap rakyat terhadap kemungkinan duet Mega-Tutut, Januar balik bertanya, sebenarnya rakyat yang mana yang mempersoalkan tersebut. "Saya benar-benar sering kecewa, karena banyak orang mengklaim atas nama rakyat. Namun ujung-ujungnya, yang muncul adalah kepentingan pribadi," ujarnya.
Untuk ini dia minta kepada rakyat dan bangsa Indonesia agar tidak mudah terjebak oleh provokasi murahan, yang sengaja ingin memecah-belah bangsa dan memporak-porandakan persatuan dan kesatuan.
"Perlu diingat bangsa kita ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya raya. Karena itu banyak yang mengincar dan menginginkan rusaknya nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Momentum itu merusak bangsa ini antara lain lewat Pemilu beserta isu-isu di sekitarnya," jelas Januar.
Isu itu, katanya, bisa saja dengan mengatasnamakan rakyat, kemudian mempersoalkan duet Mega-Tutut. "Karena duet Mega-Tutut dapat menyatukan bangsa, karenanya itu tidak disukai mereka. Inilah persoalan-persoalan yang harus kita waspadai dan kritisi," katanya. (atn)