Edisi Selasa , 09 Februari 2010  
 Topik
Assalamualaikum
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Hallo Bogor
Derap TNI-Polri
Otonomi Daerah
 Rubrik Khusus
Pelita Hati
Hiburan
Pariwisata
Kesehatan
Budaya
Parlementaria
Lemb Anak Indonesia
Otonomi Daerah
Pemahaman Keagamaan
Lingkaran Hidup
Forum Mahasiswa
Swadaya Mandiri
Forum Berbangsa dan Bernegara
Dunia Tasawuf
  Kurs Valuta Asing
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
  Rumah sakit
Arti Kunjungan Nelson Mandela dan Gerakan Sosialis Demokrat
[Opini]






Oleh Tubagus Januar Soemawinata



RABU (2/10) pemerintah kita kedatangan tamu yang tidak asing lagi bagi kita. Dialah mantan orang kuat Afrika Selatan (Afsel) Nelson Mandela. Menurut apa yang kita baca di Pelita, Kamis (3/10) kedatangan mantan Presiden dan pejuang hak-hak asasi manusia itu adalah berkaitan dengan program kesejahteraan anak-anak dan penanggulangan penyakit AIDS/HIV.


Pertanyaan kita, apakah hanya karena itu, kemudian Nelson Mandela datang ke Indonesia? Mengapa ia datang bertepatan dengan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan G-30-S/PKI, dan juga Hari Ulang Tahun TNI?


Seperti kita ketahui, pasca pemerintahan aphartheid di Afrika Selatan, yang muncul di sana adalah gelombang domokratisasi, yang kemudian secara berlahan namun pasti gerakan itu berubah menjadi suatu gerakan yang disebut Sosialis Demokrat.


Ciri yang menonjol dari gerakan ini adalah dengan dikedepankannya Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai simbol-simbol perjuangan mereka. Meskipun pada kenyataannya, ketika mereka menyampaikan pendapat, dan juga keinginannya, sama saja melanggar HAM.


Lewat gerakan itulah kemudian, borok-borok dari pemerintahan masa lalu dibongkar. Para pejabat dan politisi yang dianggap terlibat dalam pemerintahan sebelumnya atau dianggap menjadi pendukung pemerintahan aphartheid diadli.


Meskipun awal gerakan itu kita tengarai muncul pertama kali di Afsel, namun imbas dari pergolakan tersebut sampai ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Gerakan itu kita rasakan mulai muncul di awal lengsernya Presiden HM Soeharto.


Hampir sama dengan yang terjadi di Afsel, di Indonesia pun mereka bergerak dengan mengetengahkan terlebih dulu masalah HAM, kemudian demokratisasi, dan reformasi. Dengan ketiga "instrument" itulah, kemudian mereka bergerak.


Ia menyusup ke berbagai macam sendi kehidupan, dan terutama ke masyarakat bawah--kaum proletar. Sebab masyarakat inilah yang dianggap paling rentan, mudah dipengaruhi, dan diprovokasi. Juga kalangan muda, karena sifat-sifat mereka yang serba ingin tahu.


Bersamaan dengan itu, pemerintahan Orde Baru "jatuh", sehingga gerakan yang semula lebih banyak beroperasi "di bawah tanah", semakin menemukan bentuknya. Seirama dengan memudarnya ideologi Pancasila.


Di sisi lain, pemerintah--sesudah HM Soeharto--yang seharusnya lebih memperhatikan ideologi negara, persatuan dan kesatuan bangsa, yang terjadi justeru berlomba-lomba memupuk kekuatan dan pengaruh demi kekuasaan.


Kondisi tersebut, jelas sangat memberi peluang dan ruang gerak bagi paham Sosialis Demokrat. Sedang ideologi Pancasila, meskipun belum kita nyatakan "mati", namun keadaannya sekarang dalam suasana yang memprihatinkan.


Artinya, meskipun tidak ada klaim resmi dari pemerintah bahwa ideologi Pancasila telah kita tinggalkan. Juga tidak ada pernyataan terbuka, bahwa kita tengah menapaki paham dan ideologi baru, Sosialis Demokrat. Namun, kenyataannya Pancasila telah kita "campakkan."


Dalam suasana yang makin tidak menentu tersebut, dan seperti kondisi di awal kejatuhan pemerintahan aphartheid di Afrika Selatan. Kita pun mengalami kondisi yang sama, balas dendam politik terus berlangsung.


Para tokoh politik dan pemerintahan yang dianggap tidak sepaham atau tidak sejalan diseret ke pengadilan. Proses peradilan pun berjalan tidak lagi memakai koridor kebenaran dan keadilan. Namun ia lebih menonjolkan dengan apa yang diinginkan para penguasa.


Kembali kepada persoalan kunjungan Nelson Mandela serta korelasinya dengan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Peristiwa G 30 S/PKI, dan Hari Ulang Tahun TNI berikut beberapa kejadian yang berada di sekitar ketiga peristiwa tersebut.


Seperti kita uraikan di atas, secara tidak langsung kondisi politik yang terjadi di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi kondisi politik di Afrika Selatan.


Maka bukan mustahil pula, kunjungan Nelson Mandela, tidaklah sekedar kunjungan biasa. Kunjungan dia kita yakin banyak arti yang perlu kita cermati dan amati bersama. Bukan sekedar persoalan bagaimana meningkatkan kesejahteraan anak-anak dan penaggulangan AIDS/HIV, seperti pengakuannya.


Kita yakin, pasti ada agenda politik tersendiri, dan siapa tahu ada misi-misi khusus yang berhubungan dengan paham Sosialis Demokrat. Disamping arti-arti khusus yang misterius lainnya, yang tidak terungkapkan.


Juga kita pun pantas menduga, bahwa kunjungan tersebut siapa tahu sebagai perwujudan simpati, sekaligus untuk memberi spirit bagi mereka yang pernah menjadi korban pemerintahan masa lalu, termasuk bagi anak cucu keturunan mereka.


Asumsi lainnya lagi, kedatangan Nelson Mandela kali ini siapa tahu untuk memberi keyakinan kepada pemerintah sekarang bahwa dunia, paling tidak Afrika Selatan dan Amerika Serikat masih mendukungnya. Karena itu tidak perlu takut atau ragu-ragu dalam mengeluarkan kebijakan yang sudah diagendakan.


Mengingat, menjelang peringatan HUT TNI telah terjadi beberapa peristiwa yang tidak pantas terulang, seperti kasus penyerbuan Polres Langkat di Binjai, Sumatera Utara. Juga pernyataan beberapa petinggi TNI yang menyatakan pemerintah kurang memperhatikan kesejahteraan prajurit.


Lepas dari itu, kita pun pantas mencermati persoalan keseharian kita, yang sepertinya tidak ada hubungan langsung dengan mata rantai politik Indonesia-Afrika Selatan. Namun jika kita amati, bukan mustahil itu adalah bagian dari pembusukan terhadap bangsa dan negara.


Yang kita maksudkan adalah seperti kasus Narkoba, yang setiap kali terungkap hampir selalu melibatkan orang-orang Afrika. Masalah ini tentu tidak dapat kita pandang sepele, karena yang dihancurkan adalah anak bangsa, generasi muda, yang nantinya diharapkan akan menjadi pemimpin bangsa.


Dengan dihancurkannya satu generasi, berarti kita akan kehilangan satu mata rantai. Bagi kita, jelas ini sangat merugikan. Karena kita berarti akan kehilangan satu mata rantai sejarah pula.


Namun, hal ini tidak berlaku bagi mereka yang menghendaki negara kita hancur. Tidak bagi mereka yang menghendaki ideologi kita remuk. Sebab dengan dihancurkannya satu mata rantai, berarti terputus pula hubungan atau keterkaitan ideologi tadi.


Dengan demikian, kondisi tersebut akan memberi peluang bagi masuknya ideologi atau paham baru ke generasi berikutnya. Bahkan kondisi sekarang ini, meskipun kita belum benar-benar kehilangan satu generasi. Namun generasi sekarang yang ada, nampaknya sudah kehilangan jati diri.


Maka sungguh suatu tragedi yang amat dahsyat, sekiranya asumsi dan prediksi tersebut benar. Karena ke depan, kita pasti tidak akan lagi menemui generasi yang menghomarti adat istiadat. Yang memelihara rasa cinta tanah air, dan kebangsaan. Yang ada adalah generasi yang haus kekuasaan dan rakus kekayaan.


Dalam kaitan ini, bukan berarti kita anti paham Sosialis Demokrat. Paham apa saja di era keterbukaan itu, silakan berkembang. Bagi kita pun tidak ada larangan untuk membaca atau mempelajarinya.


Namun satu hal yang perlu kita ingatkan, kita bangsa Indonesia mempunyai corak adat dan budaya tersendiri, yang berbeda dengan bangsa lain. Bahkan dalam kehidupan beragama pun kita boleh beragama tidak sama, namun jangan salahkan jika adat budaya kita berbeda.


Demikian halnya dalam berpolitik atau menganut suatu paham tertentu. Silakan saja paham apapun boleh kita pakai dan anut, namun satu hal yang tidak mungkin dapat kita tinggalkan adalah nilai-nilai budaya sebagai bangsa Indonesia, yang terangkum dalam ideologi Pancasila. ***



Penulis: Drs Tubagus Januar Soemawinata, MM, tokoh masyarakat Banten, dosen dan pengamat politik dari Unas, Jakarta.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Zionis Internasional Miliki Target Kuasai Jerusalem
Ragam Ekspresi Peringatan 1 Oktober
Kenapa Oknum TNI-Polri Masih "Hobi" Berkelahi
PM John Howard dan Ambisi Australia Raya
Bubarnya Angkutan TKI di Bandara Soeta
 
  Berita Lainnya
Zionis Internasional Miliki Target Kuasai Jerusalem
Ragam Ekspresi Peringatan 1 Oktober
Kenapa Oknum TNI-Polri Masih "Hobi" Berkelahi
PM John Howard dan Ambisi Australia Raya
Bubarnya Angkutan TKI di Bandara Soeta
 


Copyright Pelita 2007©