Oleh I Made Tinggal Karyawan
GERAKAN Zionis Internasional dengan misi religius menguasai seluruh wilayah Palestina termasuk Kota Suci Jerusalem agaknya membuat umat Islam di seluruh dunia makin kepanasan.
Serangkaian manuver militer, politik dan religius elit politik AS dan Yahudi (Israel), telah mematikan potensi perlawanan umat Islam, sebaliknya memperkokoh posisi Israel untuk memenangkan klaimnya atas wilayah Palestina dan Jerussalem.
Guru Besar Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. DR. H. Nasrun Harun, di Padang, Sabtu, mengatakan, UU Akta Otorisasi Kebijakan Luar Negeri AS 2003 yang dikeluarkan Kongres AS dan disetujui Presiden Bush, Kamis (3/10), merupakan bukti kolaborasi jahat AS dan Yahudi untuk mencaplok Kota Suci Jerusalem.
Rancangan UU tersebut berisi garis-garis besar kebijakan politik luar negeri AS tahun 2003, antara lain mempertegas dukungan AS terhadap klaim Yahudi atas Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel, sekaligus menggarisbawahi langkah politik AS yang akan memindahkan Kedubes-nya dari Tel Aviv ke Jerusalem.
"UU Akta Otorisasi tersebut mencerminkan sikap arogansi AS dan Yahudi yang ditunjukkan kepada masyarakat internasional khususnya terhadap umat Islam," ujarnya.
Menurut dia, status Kota Suci Jerusalem sudah jelas sebagai calon Ibu Kota Negara Palestina masa depan, namun elit AS yang didominasi keturunan Yahudi serta Israel sendiri berupaya menempuh segala cara untuk mendapatkan kota itu.
Ia mengatakan, AS dan Yahudi telah lama bertekad menganeksasi seluruh Jerusalem yang merupakan kota suci tiga agama, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Posisi sekarang, Jerusalem Barat dikuasai Israel, dan Jerusalem Timur dikuasai Palestina.
Menurut dia, masalah Jerusalem yang cukup sensitif tersebut juga sering dijadikan AS dan Israel untuk memanas-manasi suhu politik di kawasan itu, kemudian kedua negara menarik manfaat dari situasi keruh yang diciptakannya tersebut.
Ia menunjuk contoh kasus kunjungan Ariel Sharon ke Masjid Al-Aqsha beberapa tahun silam memancing situasi yang eksplosif, sehingga muncul krisis politik yang akhirnya memberi jalan bagi Sharon menjadi PM Israel menggantikan Ehud Barak.
Menurut dia, AS sejak lama mendukung Israel yang berobsesi menguasai Jerusalem, padahal status Jerusalem merupakan kota suci tiga agama termasuk Islam.
AS di bawah kepemimpinan Presiden George Bush (senior) telah beberapa kali menyatakan akan memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem, namun mendapat tantangan sengit dari umat Islam seluruh dunia.
Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem sama artinya dengan pengakuan AS terhadap kebijakan Israel yang berobsesi menguasai seluruh Jerusalem.
Nasrun Harun lebih jauh mengungkapkan, kebijakan kongres AS tersebut merupakan peringatan bagi umat Islam bahwa upaya AS dan Yahudi menghancurkan ideologis Islam cukup jelas.
Sementara itu, Dekan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, DR. Syaifullah, mengatakan, Kota Suci Jerusalem telah lama diincar Gerakan Zionis Internasional.
Ketika Konggres Zionis pertama digelar 1897, bangsa Yahudi yang saat itu berserakan di seluruh dunia, telah bertekad membentuk negara Yahudi dengan Ibu Kota Jerusalem di atas tanah milik bangsa Arab - Palestina.
Eksodus besar-besaran bangsa Yahudi ke Palestina terjadi setelah PD I (1917), menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris waktu itu, Arthur Balfour, yang memberikan legitimasi bagi bangsa Yahudi mendirikan negara di Palestina.
Saat awal kedatangan Yahudi di Palestina mendapat perlawanan sengit dari Mufti Jerusalem Amien Al-Husaini. Mufti Jerussalem tersebut secara aktif menggalang dukungan dunia Islam dengan menyerukan ukhuwwah Islamiyah.
Perlawanan juga dilakukan Imam Kota Haifa Syaikh Izz al-Din al-Qassam yang menyerukan jihad ke Palestina merupakan kewajiban, namun perlawanan itu tidak mampu menghentikan tekad imigran Yahudi mendirikan negara sendiri. Tokoh Yahudi Ben Gorion mengumumkan terbentuknya negara Israel 14 Mei 1948.
Pengamat Timur Tengah Universitas Andalas (Unand) Padang, Najmuddin Mohammad Rasul, mengatakan, obsesi AS dan Yahudi menguasai wilayah Arab dan Kota Suci Jerusalem tidak akan pernah berhenti, sampai obsesinya benar-benar terwujud.
Persatuan Islam
Menyikapi ambisi AS dan Israel yang berusaha mengobok-obok Jerussalem, Nasrun Harun, Syaifullah dan Najmuddin menghimbau umat Islam di seluruh dunia agar bersatu melawan arogansi dan keculasan AS dan Israel tersebut, karena semua tindakan kedua negara itu sebagai penghinaan terhadap umat Islam.
Hal senada juga dikemukakan Tokoh Pemuda Islam Sumbar, H. Boy Lestari Datuk Palindih, yang mengecam keras manuver AS dan Israel untuk menguasai Jerusalem, sekaligus memperingatkan akan ada penolakan dan perlawanan dari umat Islam.
"Tidak ada cara lain, kecuali melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan, untuk menghentikan persekongkolan jahat AS dan Yahudi yang berusaha menjadikan Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel yang abadi," ujar Palindih.
Ia mengatakan, masalah Jerusalem merupakan tanggungjawab besar yang harus dipikul umat Islam, mengingat status Jerusalem sebagai kota suci sekaligus tempat berdirinya Masjid Al-Aqsha yang disucikan seluruh umat Islam.
Menurut dia, obsesi AS dan Yahudi untuk menguasai Jerusalem harus dihentikan, karena melawan kehendak masyarakat internasional dan hak sah bangsa Palestina.
Sikap AS dan Yahudi yang ditunjukkan terhadap umat Islam sudah keterlaluan, sehingga seluruh umat Islam perlu segera merapatkan barisan untuk melawan tindakan "zalim" kedua negara tersebut terhadap umat Islam.
Ia mengatakan, UU Akta Otorisasi Kebijakan Luar Negeri AS 2003 yang tidak populer tersebut, akan makin memperuncing masalah antara AS dan Yahudi dengan umat Islam.
AS dan Yahudi secara konsisten melaksanakan ambisinya untuk menguasai Jerusalem, sebagai salah satu bagian dari skenario kedua negara tersebut untuk mewujudkan negara Israel Raya di Timur Tengah dengan menghancurkan umat Islam.
Ia menunjuk contoh serangkaian dosa-dosa AS dan Yahudi terbaru adalah menghancurkan Afghanistan, menuduh beberapa tokoh Islam sebagai seorang teroris, tengah berusaha menghancurkan Irak dan kini kembali ingin menguasai Jerusalem.
"Kedua negara itu akan menuai kebencian dan kemarahan umat Islam," kata Datuk Palindih. (ant)